Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Malang
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Malang

FKIP: PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PKn MULTIKULTURAL

Author : Administrator | Jum'at, 14 Maret 2014 17:00 WIB

A. Pengantar

Secara historis dan sosio-kultural pembangunan bangsa dan pembangunan karakter (nation and character building) merupakan komitmen nasional yang telah lama tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia. Namun demikian, ternyata dalam praksis politik pembangunan dan pendidikan keajegan perhatian terhadap pembangunan karakter bangsa belum  terjaga dengan baik, sehingga hasilnya belum optimal. Fenomena keseharian menunjukkan perilaku masyarakat belum sejalan dengan karakter bangsa yang dijiwai oleh Falsafah Pancasila.

Marilah kita tengok sejenak berbagai gejolak dalam masyarakat kita pada beberapa tahun terakhir ini, sangat memprihatinkan kita semua. Pertama, munculnya perilaku buruk yang ditandai kondisi kehidupan sosial budaya kita yang berubah sedemikian drastis dan fantastis. Bangsa Indonesia yang sebelumnya dikenal penyabar, ramah, penuh sopan santun dan pandai berbasa-basi sekonyong-konyong menjadi pemarah, suka mencaci, pendendam, perang antarkampung dan suku dengan tingkat kekejaman yang sangat biadab. Bahkan yang lebih tragis, anak-anak kita yang masih duduk di bangku sekolahpun sudah dapat saling menyakiti dijalanan.

Kedua,  dalam tiga dekade terakhir ini Indonesia tengah mengalami proses kehilangan, mulai dari kehilangan dalam aspek alam fisik, alam hayati, aspek manusia dan budaya. Dalam aspek alam fisik Indonesia telah kehilangan tanah suburnya yang berganti menjadi lahan kritis dan diperkirakan bertam-bah tiap tahunnya. Dalam aspek alam hayati kita telah kehilangan hutan tropis dan Indonesia sekarang dikenal sebagai negara dengan laju deforestasi tertinggi di dunia, begitu juga dengan kekayaan alamnya banyak yang diambil secara ilegal oleh penjarah dari dalam maupun luar negeri. Dalam aspek manusia, Indonesia juga kehilangan daya saing, dalam aspek ketaatan hukum Indonesia juga sangat rendah. Dalam aspek budaya kita juga sudah kehilangan kecintaan terhadap kesenian tradisional sebagai warisan budaya adiluhung bangsa. Sebagian besar dari masyarakat kita juga sudah kehilangan kejujuran dan rasa malu. Sudah sekian lamanya Indonesia mendapatkan predikat sebagai negara paling korup. Celakanya lagi dengan modus operandi yang berubah-ubah hal itu dibudayakan. Kita kehilangan rasa ke-Indonesiaan kita. Tampaknya kita makin menonjolkan kepentingan daerah dan golongan daripada kepentingan bangsa dan negara. Kita kehilangan cita-cita bersama sebagai bangsa. Tiada lagi “Indonesian Dream” yang mengikat kita bersama, yang lebih menonjol adalah cita-cita kelompok, golongan mengalahkan kelompok, golongan lain.

Kondisi di atas menunjukkan Indonesia sudah kehilangan banyak hal dan kehilangan ini bukan tidak mungkin akan terus berlangsung. Jika demikian maka daftar kehilangan tentu akan semakin panjang. Pertanyaannya sekarang adalah, mungkinkah ini tanda-tanda kita akan meluncur ke arah kehilangan segala-galanya sebagaimana tersirat dalam kata-kata yang terdapat dalam sebuah lukisan karya A.D Pirous yang berjudul “The Nightmare of Loosing” :

You lose your wealth, you lose nothing

You lose your health, you lose something

You lose your character, you lose everything 

 Tentu saja kita tidak berharap seperti itu. Kita tidak menghendaki kehilangan karakter sebagai bangsa sehingga akan kehilangan segala-galanya. Oleh karena itu berbagai upaya perlu diintensifkan untuk menjaga eksistensi kita sebagai bangsa yang berkarakter, berbudaya dan berkeadaban tinggi.

DOWNLOAD VERSI LENGKAP
1. BAGIAN AWAL
2. BAGIAN ISI

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image