Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Malang
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Malang

Menyambut Kebijakan Jurnal Ilmiah

Author : Administrator | Jum'at, 14 Maret 2014 17:09 WIB



Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebu
dayaan, beberapa waktu lalu dikabarkan telah melayangkan surat edaran kepada rektor se-Indonesia terkait kewajiban publikasi karya ilmiah sebagai syarat kelulusan bagi mahasiswa. Mahasiswa S1 wajib mempublikasi karya ilmiah di jurnal ilmiah. Untuk mahasiswa S2 di jurnal ilmiah nasional, dan untuk mahasiswa S3 harus di jurnal ilmiah internasional. Kebijakan tersebut akan diberlakukan kepada lulusan setelah Agustus 2012 (Kompas, 6/2/2012). Kebijakan ini praktis telah memunculkan sikap pro dan kontra dari kalangan akademisi di berbagai media massa.

Dari berbagai perbincangan di berbagai media nasional oleh para akademisi dan praktisi pendidikan, terlihat bahwa mereka yang menolak kebijakan tersebut diterapkan saat ini beralasan jika kebijakan ini diterapkan, maka akan membuka berbagai praktek kecurangan seperti munculnya jasa penulisan karya ilmiah, melahirkan jurnal karbitan yang tanpa mutu dan tidak memenuhi standar. Dan alasan mereka yang paling kuat adalah karena belum adanya persiapan perangkat dan infrastruktur. Dan efeknya, satu kebijakan yang tidak didukung kesiapan masyarakat maka yang terjadi adalah penyimpangan. Inilah yang dikhawatirkan banyak kalangan dengan adanya kebijakan tersebut, maksud ingin dunia pendidikan lebih maju tapi yang terjadi justru munculnya kecurangan-kecurangan baru.

Di sisi lain, mereka yang mendukung kebijakan ini diterapkan sekarang melihat bahwa ini sebagai momentum memaksimalkan kerja akademik dunia kampus serta memungkinkan evaluasi terhadapnya. "Saat ini yang penting jurnalnya ada dulu. Kalau sudah menjamur baru kita dorong ke peningkatan kualitas, kata Menteri Pendidikan Muhammad Nuh (Kompas. com, 15 Februari 2012). Nuh beralasan, publikasi karya ilmiah mahasiswa secara konsisten pada jurnal-jurnal ilmiah akan membuat citra Indonesia lebih diperhitungkan. Apalagi, jika muncul di jurnal ilmiah internasional. Sedangkan mutu tersebut tidak akan diketahui sebelum jurnalnya benar-benar diciptakan.

Sebuah jawaban yang menarik juga bisa dibaca di sebuah jajak pendapat Yahoo Answer tentang pentingnya publikasi karya ilmiah di jurnal, bahwa publikasi jurnal ilmiah adalah sebagai upaya untuk meningkatkan manfaat hasil penelitian sehingga berdampak pada perbaikan dan kemaslahatan kehidupan masyarakat. Publikasi ini bisa juga dilakukan dalam bentuk seminar, penerbitan, dan jenis lain yang memungkinkan hasil-hasil penelitian itu dapat disosialisasikan dan didesiminasikan secara terbuka kepada publik, baik dalam skala nasional, regional maupun lokal.

Saya juga yakin jika kebijakan tersebut diterapkan, maka akan bisa meminimalisir terjadinya praktek plagiasi di dunia kampus. Saya kira untuk maju memang harus sedikit dipaksa. Ketika seseorang telah berada dalam situasi terjepit dan terpaksa, maka ia akan mengeluarkan potensi dahsyatnya sehingga ia bisa menuntaskan tugas tersebut dengan baik. Kebijakan publikasi karya ilmiah ini jika diterapkan saat ini, meskipun akan menemui kekurangan dan tantangan disana-sini namun pasti akan memberikan pengaruh besar dimasa yang akan datang.

Bersiap-Siap Lebih Penting

Terjebak dalam pro kontra saya kira tidak penting, yang lebih penting adalah bagaimana agar seluruh mahasiswa, pihak kampus dan semua stakeholder pendidikan dan institusi atau lembaga penerbit jurnal lainnya agar bersiap-siap secepatnya menyahuti kebijakan tersebut. Saya yakin, meski dengan segala keterbatasan yang ada, insyaAllah kebijakan tersebut bisa diimplementasikan.

Para mahasiswa program S1 juga tidak perlu takut karena pasti akan ada berbagai kemudahan. Jangan dulu memikirkan bebannya, tapi bayangkanlah manfaat besarnya. Sebagai tahapan pertama, jika persoalannya adalah terletak pada jumlah jurnal yang masih sangat minim sehingga tidak mungkin akan mampu menampung semua karya ilmiah mahasiswa, Kepala Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII LIPI), Sri Hartinah dalam wawancaranya dengan detikcom (10/2/2012) memberikan solusi untuk menggunakan jurnal online, mengingat saat ini jurnal online mulai bermunculan. Jurnal online adalah jurnal ilmiah berbentuk cetak yang ditransformasi ke teknologi informasi. Dengan perkembangan dunia maya saat ini yang begitu pesat, akses terhadap jurnal online juga menjadi mudah. Pada tahap pertama ini, para mahasiswa bisa saja diarahkan untuk menulis di jurnal online saja dulu sebagai solusi dari kepala PDII LIPI diatas. Pun demikian, kita tentu yakin jika para dosen tentu akan berlomba-lomba membekali para mahasiswa dengan bekal yang cukup untuk penulisan karya ilmiah ini.

Sejalan dengan itu, jurnal-jurnal yang ada juga harus segera di akreditasi sehingga karya ilmiah yang dipublikasi betul-betul memiliki nilai dan standar yang tinggi. Menurut Ditpertais.net, Jurnal ilmiah yang diajukan untuk memperoleh Akreditasi, yaitu jurnal yang telah memenuhi persyaratan sebagai berikut, seperti Jurnal yang telah terbit minimal selama 3 (tiga) tahun berturut-turut, terhitung mundur mulai tanggal terakreditasi. Frekwensi penerbitan jurnal ilmiah minimal dua kali dalam satu tahun secara teratur. Bagi jurnal yang hanya sekali terbit dalam mengajukan akreditasi, harus mengajukan alasan-alasannya. Jumlah tiras setiap kali penerbitan minimal 300 eksemplar. Diterbitkan oleh Pengurus Perguruan Tinggi dibawah naungan Depdiknas, Himpunan Profesi dan Intansi Terkait. Dengan syarat-syarat seperti ini, saya kira ini tentu bukan sesuatu yang mustahil untuk dilaksanakan. Hanya tinggal kemauan saja.

Dan yang lebih penting, dengan realitas aneka persoalan yang kita hadapi saat ini, lahirnya jurnal-jurnal ilmiah yang mengupas aneka persoalan di negara kita dalam perspektif ilmiah dan memberikan solusinya adalah suatu hal yang begitu penting. Dan karya ilmiah yang ditulis sebaiknya langsung menyentuh dan memiliki relevansi dengan kondisi kekinian, baik konteks lokal maupun nasional, sehingga karya ilmiah yang dipublikasikan nanti benar-benar memang sedang sangat dibutuhkan sehingga benar-benar akan memberi manfaat positif bagi perubahan bangsa ke arah yang lebih baik.

Dan pemerintah, tentu saja harus memiliki perhatian ekstra untuk persoalan ini. Di negara-negara maju, segala pembangunan selalu diukur dengan penelitian ilmiah, sehingga fondasi pembangunan yang dijalankan betul-betul kuat. Karena memang penelitian ilmiah itu sendiri berfungsi untuk membantu gerak laju pembangun dalam semua bidang. Pemerintah harus mengalokasikan anggaran yang maksimal untuk hal ini sehingga hasilnya nanti juga betul-betul maksimal. Bentuknya bisa saja dengan menghargai jerih payah mereka yang menulis karya ilmiah dan para pengelola jurnal maupun dengan menyediakan infrastruktur lainnya. Dan ini bisa dijalankan berbarengan dengan kebijakan publikasi karya ilmiah mulai Agustus nanti, tidak mesti harus betul-betul segala infrastruktur siap baru kebijakan publikasi tersebut dijalankan. Wallahu alam bishshawab.***

Oleh : Teuku Zulkhairi.
sumber: Analisa Daily

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image